Diskriminasi Al Saud dan Dukungan Amerika

Kebijakan diskriminasi yang diterapkan rezim Al Saud menyebabkan meluasnya protes rakyat di Arab Saudi. Anehnya, Amerika Serikat selalu mendukung kebijakan Riyadh dan bersikap bungkam terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia yang semakin tak terkendalikan di Saudi.

Gelombang protes rakyat terhadap kebijakan diskriminatif rezim Al Saud telah memasuki tahap baru. Sikap Riyadh yang membatasi penggunaan fasilitas umum dan mengkhususkan miliaran dolar hasil ekspor minyak negara kepada keluarga kerajaan membuat kondisi semakin tidak dapat ditolerir rakyat.

Dari 22 juta penduduk Saudi, sekitar 2,5 -3 juta warga bermazhab Syiah (12 Imam, Zaidi, dan Ismailiyah). Pemerintah Riyadh memperlakukan mereka seperti warga tingkat kedua atau orang asing. Warga Syiah sama sekali tidak mempunyai peran dan pengaruh di pemerintahan Saudi. Mereka merasa seakan-akan bukan warga Saudi karena pemerintah kerajaan menganggap mereka seperti warga asing dan menempatkannya di tingkat sosial yang terendah.

Mayoritas warga Syiah Saudi tinggal di wilayah timur negara ini yang kaya minyak. Menurut laporan, jumlah warga Syiah Saudi antara 10 hingga 15 persen dari 22 juta penduduk negara itu. Namun warga Syiah meragukan kebenaran data tersebut. Mereka meyakini kebanyakan umat Syiah menyembunyikan mazhab mereka. Hal itu disebabkan tekanan dan diskriminasi pemerintah.

Pandangan Syiah bahwa setiap penguasa tidak dinilai sebagai “Wali Amr” dan penentangan terhadap penguasa zalim adalah kewajiban syariat, dianggap sebagai bahaya besar bagi rezim Saudi. Para pejabat Riyadh menyadari akan hal itu, oleh karena itu mereka mengambil langkah antisipasi dengan cara mengurangi jumlah warga Syiah yang bekerja di bidang-bidang yang dianggap sensitif.

Para pejabat Saudi rata-rata bermazhab Wahabi, di mana dalam pemikiran mereka ingin menghidupkan prinsip dan norma-norma umat Islam sesuai dengan pandangan mereka. Mereka menilai semua umat Islam yang bermazhab selain Wahabi dianggap kafir dan mengkafirkan lembaga-lembaga lain, bahkan untuk memberantas para oposisi, mereka menggunakan istilah “Takfiri” atau pengkafiran.

Selama abad 20, pemerintah Riyadh dan Wahabi telah memberlakukan tiga diskriminasi; mazhab, ekonomi dan politik terhadap warga Syiah, bahkan hingga kini sikap diskriminasi itu tetap subur di Saudi. Rezim Al Saud juga membatasi aktivitas-aktivitas keagamaan warga Syiah, termasuk pembangunan Husainiyyah, masjid, berpakaian khusus seperti pakaian hitam di hari Asyura.

Selain adanya diskriminasi mazhab dan keyakinan , warga Syiah juga menjadi kelompok paling teraniaya di Saudi. Provinsi timur Saudi yang merupakan wilayah berpenduduk Syiah adalah wilayah yang tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah kerajaan. Pemerintah Riyadh memperlakukan berbeda terhadap wilayah ini, misalnya dalam hal pendidikan, kesehatan dan pembangunan jalan. Warga Syiah juga tidak mendapat posisi penting dalam pemerintahan. Jabatan-jabatan penting, seperti bagian keamanan, negara, militer dan polisi diserahkan kepada keluarga kerajaan dan kelompok Wahabi. Bahkan warga Syiah di provinsi timur negara ini tidak pernah mendapat pekerjaan penting. Manajemen dan pengelolaan sekolah, universitas, dan lembaga-lembaga lain di wilayah itu diserahkan kepada warga non-Syiah.

Menurut koran Inggris Independent, pada dekade terakhir ini, warga Syiah Saudi menjadi korban diskriminasi dan perlakuan buruk dari para pejabat Riyadh. Koran tersebut menilai kebijakan rezim Al Saud terhadap warga Syiah seperti sikap rezim Apartheidterhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan.

Mantan Duta Besar Mesir untuk Riyadh, Fathi al-Shazli menegaskan bahwa rezim Saudi terang-terangan telah melanggar hak-hak warga Syiah negara ini. Ditambahkannya, kezaliman dan diskriminasi Al Saud terhadap wilayah timur Saudi yang berpenduduk Syiah tampak jelas, sehingga tak seorangpun dapat mengingkarinya.

Menurutnya, kebijakan anti-warga Syiah oleh pemerintah Saudi disebabkan ketakutan mereka terhadap ideologi Syiah. Mereka mengangap warga Syiah sebagai ancaman. Oleh sebab itu, pemerintah Wahabi tidak ingin memenuhi hak-hak warga Syiah.

Dalam laporan tahunan lembaga-lembaga pembela HAM tentang kondisi HAM di Arab Saudi menyebutkan bahwa diskriminasi terhadap warga Syiah semakin meningkat. Menurut laporan tersebut, para pejabat keagamaan Saudi tidak mengizinkan warga Syiah melakukan aktivitas keyakinannya, jika hal itu dilanggar maka mereka diancam akan ditangkap. Hal itu tampak jelas di kota Mekah dan Madinah. Gelombang protes warga Saudi terhadap diskriminasi itu memaksa pemerintah Riyadh secara lahiriyah mengurangi tekanannya terhadap warga Syiah.

Bungkamnya negara-negara Barat khususnya Amerika terhadap pelanggaran HAM di Saudi dan mengambil sikap keras terhadap pelanggaran HAM di negara-negara lain membuat para aktivis sipil Barat protes. Mereka menyebut langkah pemerintah Presiden AS Barack Obama sebagai langkah yang hanya berbau pamer dan disesuaikan dengan kepentingannya. (IRIB Indonesia/RA/NA)

AMALAN PRAKTIS DAN DOA-DOA PILIHAN
FREE DOWNLOAD DOA-DOA PILIHAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: