Riset Aktivis NU untuk Raih Doktor: Syiah Jepara Tampil Damai dan Sejuk

Islam Syiah yang lagi ramai-ramainya dibicarakan di Indonesia, baru kali ini diteliti secara ilmiah nan mendalam. Komunitas Syiah di Kabupaten Jepara yang tak pernah muncul dalam berita, dilaporkan secara sangat bagus oleh mahasiswa S3 IAIN Walisongo M Muhsin Jamil MAg, yang merupakan ketua Lakpesdam PW Jawa Tengah 2004-2005.

Situs NU online melaporkan, riset yang luar biasa karena langka itu dinilai sangat bagus kala Muhsin mempresentasikannya di ujian promosi doktor dirinya di Kampus I IAIN Walisongo kemarin (Kamis, 19/1). Sehingga promovenda ini diganjar nilai yudisium IP 3,78 dan dikukuhkan sebagai doktor ke-7 yang diluluskan IAIN Walisongo Semarang.

Para pengujinya adalah Prof Dr Muhibbin, Ahmad Hakim Ph.D, Prof Dr Nurdien H Kistanto, Prof Dr A Ghazali Munir, Prof Dr Ibnu Hadjar, Abu Hapsin Ph D. Adapun promotornya adalah Prof Dr Mudjahirin Rohir dan co promotor Dr M Nafis.

Dengan disertasi berjudul Dinamika Identitas dan Strategi Adaptasi Minoritas Syiah di Jepara, dosen Fak Ushuluddin IAIN Walisongo ini mengungkapkan, Syiah di Jepara dan umumnya Indonesia, tidak seperti Syiah Imamiyah di negara-negara Arab.

Golongan minoritas ini, kata dia, berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat lokal yang secara tradisi adalah penganut sunni (mayoritas dunia). Amalan keagamaan yang mereka lakukan juga dibuat sama dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Seperti Mauludan, Muharoman atau Suronan.

“Komunitas Syiah di Jepara yang merupakan terbesar di Jawa Tengah, melakukan adaptasi dan dinamisasi dengan masyarakat sekitar. Identitas mereka tidak lagi tampak sebagai minoritas yang “aneh” apalagi sampai disebut menyimpang.

Hasil observasinya, kelompok Syiah di Jepara tidak menampilkan diri sebagai golongan yang berbeda dengan kebanyakan muslim lainnya. Tak satupun dari anggota Syiah Jepara, kata Muhsin, melakukan kawin kontrak alias nikah mut’ah. Mereka juga berbaur dan mengamalkan ritual keagamaan yang sama dengan sunni.

“Komunitas Syiah di Jepara sangat anteng. Mereka rukun saja dan selama ini guyub dengan komunitas lain yaitu NU dan Muhammadiyah. Tak pernah ada konflik walaupun sekedar debat,” tuturnya.

Nikah mut’ah, ajaran Syiah yang sering dipraktekkan di Arab, jelas Muhsin, justru banyak dilakukan orang non Syiah. Yaitu wanita-wanita Jepara yang karena motivasi ekonomi, rela dinikahi orang asing secara kontrak alias berbatas waktu, semata untuk kepentingan bisnis mebel.

Mudjahirin Tohir dalam ulasannya usai sidang yudisium menyampaikan selamat atas kegigihan Muhsin Jamil melakukan penelitian. Suami dari Nur Rochayati SAg ini dinilai seorang muslim sejati. Karena sebagai orang berpaham sunni –mayoritas—Muhsin mampu menjadi peneliti yang netral dan meneguhkan dia sebagai aktivis multikulturalisme.

Pergumulannya di organisasi Nahdlatul Ulama sejak lama, kata Mudjahirin, membuah ayah dari Nahdiya Bella Pertiwi dan Zaka Aulia Nala Udhma ini sukses membawa pengertian yang luhur tentang syiah. Sehingga ormas seperti NU maupun lembaga MUI bisa turut menjaga iklim damai dan berdialog dengan Syiah secara nyaman.

Namun Rektor IAIN Walisongo yang juga menjadi penguji, Muhibbin menyatakan, pihaknya terpaksa tidak bisa memberi predikat cum laude kepada Muhsin karena sang promovenda melebihi batas waktu penyelesaian studi doktoral. Yakni lebih dari lima tahun yang dipersyaratkan.

“Anda mendapat nilai sangat memuaskan, tetapi tidak bisa diberi predikat cum laude. Karena disertasi Anda baru diujikan lebih dari lima tahun kuliah,” kata Muhibbin.

Muhsin lahir di Tegal, 15 Februari 1970. pendidikan SD dan Mts dia tempuh di kampung halaman, Danawarih, Balapulang, Tegal. Lalu jenjang MAN dia tempuh di Cilacap sambil mondok di Pesantren Sufyan Tsauri Cigaru Majenang Cilacap. Selanjutnya, S1 dan S2 dia tamatkan di IAIN Walisongo Semarang.

Pendidikan pendek berupa training maupun kursus banyak dia dapatkan di luar maupun dalam negeri. Karya tulisnya juga sudah cukup banyak. Diantara buku karangannya adalah “Agama-Agama Baru di Indonesia” dan “Membongkar Mitos, Menegakkan Nalar: Kontestasi Literalism dan Liberalisme Islam” yang diterbitkan Pustaka Pelajar Yogyakarta.

Pengajar etika tasawuf ini juga pernah menulis buku berjudul “Tarekat dan Dinamika Sosial Politik NU: Tafsir Sosial Sufisme Nusantara” dengan penerbit sama.

Adapun aktivitas pengabdian masyarakat yang dilakoninya sekarang adalah Wakil Sekretaris Badan Pengelola Masjid Agung Jateng dan Direktur Komunitas Seni Madina. (IRIB Indonesia/NU online)

AMALAN PRAKTIS DAN DOA-DOA PILIHAN
FREE DOWNLOAD DOA-DOA PILIHAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: