Teror Bom Buku, Rekayasa?

Setelah dihebohkan isu bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyalahgunakan kekuasaannya seperti yang diberitakan harian terkemuka Australia, The Age dan Sydney Morning Herald, masyarakat terhentak dengan serangkaian teror bom buku yang muncul secara tiba-tiba.

Hingga memasuki hari ke-10, Polri belum dapat mengungkap otak di balik teror bom buku tersebut. Teror demi teror terus terjadi kendati Presiden telah meminta aparat hukum mengusut tuntas kasus tersebut.

Terakhir, sebuah ledakan dengan kekuatan kecil terjadi di sekitar kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Jalan Parung Panjang, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat (25/3/2011). Ledakan itu diduga berasal dari isi sebuah kaleng di saluran air (got) tepat di samping kawasan tersebut.

Pengamat intelijen Suripto mengaku heran mengapa Kepolisian RI, yang pernah sukses menaklukkan gembong teroris yang paling dicari di Asia, Noordin M Top, Dr Azahari, berikut jaringannya, seolah tak berdaya mengungkap pelaku di balik serangkaian teror bom.

“Masak bom buku lebih dari 10 hari tidak bisa diungkap. Padahal, bom Marriott, pada hari kedua polisi sudah tahu. Jadi, timbul pertanyaan, apakah ini dilakukan oleh nonstate actor atau memang bagi dari state terrorism,” kata Suripto pada diskusi yang membahas soal Rancangan Undang-Undang Intelijen di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (26/3/2011).

“Kalau saya diminta membantu, tidak sampai tiga hari sudah selesai,” kata Suripto setengah bercanda.

Saat ini, Markas Besar Kepolisian RI baru berhasil mengindentifikasi wajah orang yang diduga menjadi kurir buku berisi bom, booby trap, ke Kantor KBR 68 H di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur. Sketsa wajah pelaku diumumkan secara resmi dalam jumpa pers, Jumat (18/3).

“Sketsa dibuat berdasar keterangan para saksi. Diperkirakan kurir adalah pria berusia 30-an tahun, tinggi 165 sentimeter, berjaket gelap, dan berjanggut tipis,” papar Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy G Raffly Amar.

Sementara itu, Kepala Detasemen Gegana Brimob Polda Metro Jaya Komisaris Deonijiu de Fatima menduga paket bom diracik orang yang sama dan mirip bom-bom yang ditemukan di Poso.

“Saat saya periksa kelima bom tersebut, baik skema sirkuit, pemicu, maupun isian bahan peledaknya, satu sama lain sama. Oleh karena itu, saya menduga kelima bom diracik orang yang sama. Pembantunya boleh banyak, tetapi ‘koki’-nya cuma satu,” kata polisi yang sudah lebih dari 100 kali menjinakkan bom di Aceh, Poso, Ambon, dan Papua itu.

Membantah
Terkait tuduhan rekayasa, hal ini telah dibantah Boy. “Nggak mungkin. Kami punya etika profesi, kami punya tanggung jawab hukum. Pekerjaan Densus itu bukan merekayasa,” ucapnya. Boy mengatakan, justru pekerjaan Densus melakukan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana teror. “Sesuatu yang tidak mungkin kalau kami sengaja membuat. Sangat bertentangan dengan nilai-nilai etika profesi kami,” kata Boy.
Sumber: http://nasional.kompas.com

Free Download Amalan Praktis dan Doa Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: