Lawatan Ahmadinejad ke Lebanon dan Sebuah Peti Mati Buat Israel

Rezim Zionis Israel terbentuk tahun 1948 sebagai rezim haram dan buatan. Zionis Israel selama ini mengklaim memiliki kekuatan militer dan dukungan Barat sekaligus memperkenalkan Palestina pendudukan sebagai rumah aman bagi para Yahudi sedunia.

Sejak perang tahun 1973 dengan sebagian negara-negara Arab, rezim ini hampir saja musnah, tapi dengan bantuan militer Amerika, negara-negara Arab harus menerima kekalahannya. Hingga tahun 1979, masa kemenangan Revolusi Islam Iran, rezim Zionis Israel berhasil mengisolasi dan meminggirkan seluruh negara-negara pendukung Palestina.

Kekuatan Zionis Israel semakin meningkat di dunia, sehingga pernyataan-pernyataan para pemimpin rezim Zionis Israel menjadi sangat menentukan. Tekanan Golda Meir, Menachen Begin, Ariel Sharon dan lain-lain mampu menjadikan resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB menjadi sekadar arsip lembaga internasional ini. Dengan tekanan Barat, khususnya AS dan kepatuhan PBB, negara-negara Arab, kecuali Suriah terpaksa memilih di antara dua jalan; menandatangani perjanjian perdamaian dengan Zionis Israel atau memilih diam.

Dalam kerangka seperti ini, Palestina pendudukan yang dalam kamus politik internasional dikenal sebagai pangkalan bom atom dan gudang senjata pembunuh massal harus menerima kondisi terburuk.

Tapi pesan penuh makna kemenangan Revolusi Islam Iran dan penekanan Imam Khomeini ra bahwa ‘Israel harus musnah’ membuat perjuangan lewat jalur organisasi yang telah lelah di bawah tekanan politik harus menyerahkannya kepada perjuangan rakyat. Peralihan ini membuat muqawama rakyat Palestina mendapat nafas baru yang tak kenal lelah melawan rezim penjajah tanah airnya.

Zionis Israel yang sebelum ini berhasil menaklukkan negara-negara Arab dan menyanyikan lagu-lagu tentang perluasan tanah air yang dijanjikan, mulai tampak limbung menghadapi gerakan massa. Bangkitnya Intifada dan dimulainya muqawama di tengah-tengah masyarakat mampu merenggut paksa tidur rezim Zionis pasca perdamaian. Tiba-tiba saja mereka menyaksikan telah berada dalam kondisi terburuk yang belum pernah dibayangkan selama ini.

Pasca perundingan perdamaian Kamp David dan semakin jelasnya dampak dari perundingan ini, warga Palestina yang mengungsi di Lebanon, Yordania, Tepi Barat Sungai Jordan dan Gaza mulai sadar. Warga Palestina menyadari bahwa untuk membebaskan Palestina dari lingkaran transaksi politik, mereka harus terjun langsung ke medan tempur.

Demi tujuan membebaskan al-Quds telah terwujud solidaritas terwujud di Beirut, Damaskus dan Tehran. Ketiga negara ini melihat pentingnya mengakhiri pendudukan rezim Zionis Israel di Lebanon. Kaburnya pasukan Israel dari sejumlah kawasan Lebanon yang diduduki sebelumnya merupakan petanda pertama kemenangan perjuangan rakyat. Mereka berhasil membuktikan kepada seluruh dunia bahwa perjuangan rakyat mampu mengalahkan pasukan Zionis Israel.

Di sisi lain, militer Zionis Israel setiap harinya berhadapan dengan muqawama Palestina di Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza. Untuk mengakhiri perjuangan rakyat Palestina, mereka bahkan menembak langsung warga Palestina dengan tank dan merudal dari helikopter. Pembantaian yang dilakukan Zionis Israel ternyata tidak mampu membuat mereka bertahan di daerah ini dan untuk kedua kalinya mereka harus mundur dari daerah pendudukannya.

Rezim Zionis Israel berusaha keras untuk menutupi kekalahan dan dampak negatifnya di kancah dunia internasional. Untuk itu mereka memanfaatkan peluang jalur perundingan damai, menciptakan perselisihan antarkelompok-kelompok muqawama Palestina dan memperluas proyek permukiman zionis. Hal ini harus dilakukan untuk memberikan rasa percaya diri kepada para zionis yang mulai ketakutan. Namun dua serangan brutal militer Zionis Israel ke Lebanon dan Jalur Gaza justru membuat kekuatan militer rezim ini keropos dan hancur dari dalam.

Rezim Zionis Israel sebelumnya mengaku sebagai kekuatan tak terkalahkan di Timur Tengah. Mereka memaksa sekelompok negara-negar Arab menerima kekalahan. Tapi dengan asumsi pasti menang di perang Lebanon dan Gaza, karena dibantu oleh peralatan perang Amerika, ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan. Tangisan tentara dan perwira militer Zionis Israel ditambah wajah-wajah penuh ketakutan tentara yang selamat untuk pertama kali direkam oleh jaringan media internasional.

Para pakar militer dan politik menekankan bahwa saat ini rezim Zionis Israel tidak memiliki kekuatan untuk menjamin keamanan yang dijanjikannya selama ini di Palestina pendudukan. Belum lagi dengan menyaksikan betapa Amerika sendiri masih dililit krisis ekonomi, perang Irak dan Afghanistan. Rezim penjajah ini tengah menyaksikan saat-saat kehancurannya dan muqawama rakyat Palestina semakin kuat.

Kenyataan yang terjadi Kamis sore (14/10) di Bint Jbeil, Lebanon ribuan warga mendengarkan pesan Revolusi Islam Iran dari lisan Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Republik Islam Iran. Pesan Ahmadinejad mengulangi ucapan Imam Khomeini ra bahwa ‘Israel harus lenyap dari muka bumi’ dan ‘Israel bakal musnah’. Pesan ini menunjukkan betapa rezim Zionis Israel selain dari sisi militer telah kalah, di kancah politik dan masyarakat Timur Tengah juga tidak lagi mampu mengaku-aku dirinya.

Pada saat yang sama, media-media Barat setelah menayangkan secara langsung pidato Ahmadinejad yang menyebut Israel bakal musnah, segera menayangkan wajah-wajah militer Zionis Israel yang kuyu. Pertanyaannya, apakah peti mati Zionis Israel telah dipersiapkan? (IRIB/SL/MF)

AMALAN DAN DOA2 PILIHAN
Download di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: