Ilmu Imam Ali bin Abi Thalib (sa)

Telah masyhur di kalangan ulama, khususnya ulama sufi bahwa Rasulullah saw menerima ilmu makrifat Allah swt kemudian diajarkan secara khusus kepada Imam Ali (sa). Sepanjang masa risalahnya, secara berkesinambungan Rasulullah saw mengamalkan ilmu ini. Dengan bantuan Ilahi dan pengawasan Rasulullah saw, Ali menghafal semua ilmu ini. Lalu atas pesan dan perintah Rasulullah saw, beliau menuliskannya bagi para imam sesudahnya dari keturunannya. Dengan cara inilah, telah tersedia kitab-kitab sehingga Imam Ali (sa) dapat dikategorikan sebagai penyimpan ilmu nubuwah dan pintu ilmu Rasulullah saw.

Rasulullah saw berkali-kali memuji kedudukan ilmu Ali (sa). Di antaranya dalam sebuah hadis, beliau bersabda: ”Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menghendaki ilmu, ia harus memasukinya melalui pintunya.” (Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hlm 127)

Para sahabat Rasulullah saw mengakui kedudukan ilmu Imam Ali (sa), khususnya dalam urusan pengadilan. Abu Hurairah mengutip dari Umar bin Khatab bahwa dalam urusan pengadilan, Ali adalah yang paling alim daripada yang lain. (Tabaqat Ibn Sa’ad, jilid 2, hlm 339)

Sua’id bin Musabbab mengatakan: “Umar senantiasa berlindung kepada Allah dari problema jikalau Abul Hasan (Ali) tidak berada di sana.” (Tabaqat Ibn Sa’ad, jilid 2, hlm 339)

Al-Qomah mengutip dari Abdullah, ia berkata: “Di antara kami dikatakan, Ali bin Abi Thalib, dalam urusan pengadilan, adalah lebih berilmu daripada semua warga Madinah.” (Tabaqat Ibn Sa’ad, jilid 2, hlm 338)

Aban bin Ayyas berkata: “Aku bertanya kepada Hasan Al-Bashri tentang Ali (sa). Ia mengatakan: “Apa yang harus aku katakan tentangnya? Dia paling dahulu dalam memeluk Islam. Keutamaan ilmu serta fikih dan pandangannya tiada tertutup bagi siapa pun. Ia selalu bekerjasama dengan Rasulullah saw. Keberanian, zuhud, serta pengenalannya dengan persoalan pengadilan dan kekeluargaannya dengan Rasulullah saw tak dapat dipungkiri.” (Syarah Nahjul Balagahah, Ibn Abil Hadid, jilid 4, hlm 96)

Ibnu Abbas mengatakan : “Ilmu Rasulullah saw berasal dari ilmu Allah dan ilmu Ali berasal dari ilmu Rasulullah saw; ilmuku dari ilmu Ali; ilmuku dan para sahabat lainnya dibanding dengan ilmu Ali adalah seperti setetes air di hadapan tujuh lautan.” (Yanabi’ Al-Mawaddah, hlm 80)

Ibnu Abbas mengatakan : “Setiap kali ada orang yang dapat dipercaya untuk mengutip fatwa adalah Ali (sa). Maka, kami tidak berani mendahuluinya.”(Thabaqat Ibn Sa’ad, jilid 2, hlm 348)

Udzainah Abdi mengatakan: “Aku bertanya kepada Umar mengenai menunaikan Umrah. Dari mana aku mesti memulai ihram?” Ia menjawab: “Tanyalah kepada Ali!” (Dzahairul Uqba, hlm 79)

Abu Hazim berkata: “Seorang lelaki datang menjumpai Muawiyah dan menanyakan suatu persoalan. Dalam jawabannya, Muawiyah berkata: “Tanyalah kepada Ali sebab dia adalah yang paling alim.” Lelaki itu berkata, “Jawabanmu lebih baik di sisiku daripada jawaban Ali.” Muawiyah berkata: “Engkau berkata buruk! Engkau menyatakan kebencian terhadap seseorang yang Rasulullah telah ajarkan kepadanya ilmunya, beliau bersabda: “Kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, kecuali sesudahku tidak akan ada nabi.” Umar pun dalam menyelesaikan persoalan merujuk kepada Ali.” (Dzahairul Uqba, hlm 79)

Doa2 haji dan Umroh dilengkapi bacaan teks latin dan terjemahan:
http://almushthafa.blogspot.com

Wassalam
Syamsuri Rifai
http://www.alfusalam.web.id
http://shalatdoa.blogspot.com
http://islampraktis.wordpress.com

Jasa Pembuatan website dan contoh2nya klik di sini
Personal kontak: Bobby Oksa Wijaya
+62813 993 44990; +6221 997 996 43.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: