Tanggapan Atas Revolusi Iran dan Sirkulasi Konflik Elit

Kekeliruan dalam menaksir secara tepat hal-hal yang berkaitan dengan Iran, bukan sekali ini terjadi. Ketika revolusi Islam 1979 berhasil menghancurkan kediktatoran militer negeri yang menjadi sekutu terkuat Amerika di Timur Tengah, hanya sedikit pakar Barat yang memperkirakan bahwa kaum revolusioner Islam akan tumbuh menjadi satu kekuatan utama di Iran. Kekeliruan menyoroti perkembangan revolusi Islam Iran terus berulang hingga kini.

Mustafa Abd Rahman dalam opininya yang dimuat Kompas hari ini Ahad (21/6) menyoroti sirkulasi elit dalam revolusi Iran telah melakukan kekeliruan serupa. Dalam tulisannya yang menelisik jejak kesuksesan revolusi Iran tahun 1979 hingga gejolak politik di Iran pasca pemilu presiden hari Jumat (12/6), kontributor Kompas ini gagal meneropong Iran dari kedalaman.

Di mata Abd Rahman, gejolak politik di Iran yang cukup kuat pada pascarevolusi merupakan sebuah keniscayaan dari negara yang dibangun di atas fondasi revolusi dengan corak ideologi yang beragam, bertentangan dan rawan konflik.

Abd Rahman menyebut arsitek dan aktor intelektual revolusi Iran adalah kaum intelektual Islam nasionalis, sedangkan kaum Mullah dan Bazari adalah penggerak dan penyandang dana massa di lapangan.

Menanggapai klaim ini, tampaknya Mustafa tidak banyak memahami tokoh-tokoh utama dibalik lembaran politik revolusi Iran. Terlalu naif mengesampingkan peran ulama dan menyebutnya hanya penggerak di lapangan saja. Peran vital Imam Khomeini, Ayatullah Khomenei, Ayatullah Talighani dan Muthhahari serta deretan para pemikir ulama lainnya tidak bisa dipisahkan dari kemenangan revolusi.

Nepotisme, otokrasi dan penindasan Shah Iran beberapa dekade terhadap bangsa Iran, gagal diperangi kaum komunis dan liberal. Tetapi kemudian, kalangan relijiuslah yang berhasil mengantarkan kejatuhan Shah. Inilah salah satu fakta kekeliruan membaca spirit bangsa Iran yang religius.

Kedua, Mustafa Abd Rahman gagal membongkar variabel utama kemenangan Ahmadinejad dalam pemilu presiden 2005. Dengan serampangan, Rahman menyebut Kemenangan Ahmadinejad akibat sokongan pendukung Khatami, termasuk mahasiswa. Padahal, bagi orang yang menyaksikan pemilu ini dari dekat tentu tahu persis bahwa Khatami mendukung Rafsanjani pada babak kedua pemilu tesebut, bukan Ahmadinejad. Sebelumnya pada babak pertama, Khatami menjagokan Moin.

Penampilan Ahmadinejad, yang sederhana dengan jargon politiknya yang antielite dan antikorupsi, menjadi pesona bagi masyarakat luas Iran. Selain itu, Abd rahman juga keliru mengidentikan mahasiwa Iran dengan Khatami, karena hanya sebagian kecil saja mahasiswa yang masuk digerbong yang ditarik kalangan reformis ini.

Ketiga, terkait dinamika terakhir Iran pasca pemilu presiden 2009, Mustafa Abd Rahman menyebut Ahamadinejad terkooptasi oleh Pemimpin besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khomenei yang memicu ulah Mousavi membentuk koalisi pelangi bersama Khatami dan Rafsanjani. Faktor tersebutlah yang mendorong Mousavi memprotes keras hasil pemilu dan menyerukan para pendukungnya terus menggelar unjuk rasa.

Dalam perspektif Abd Rahman, sirkulasi gejolak politik di Iran yang bergulir sejak awal masa revolusi itu baru akan terhenti, baik secara permanen dan waktu cukup panjang, bila para elite Iran mau melakukan koreksi dan menyepakati format baru tata kelola negara yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman, setelah revolusi Iran berusia 30 tahun itu.

Tampaknya, Abd Rahman gagal menangkap ide dasar Republik Islam Iran yang berangkat dari prinsip demokrasi religius yang lahir dari partisipasi rakyat. Inilah deretan fakta kekeliruan para analis Barat yang diikuti pemikir Indonesia mengenai Iran. kekeliruan yang disebut Abbas Barzegar dari Universitas Emory, Atlanta, Georgia sebagai kegagalan membaca spirit bangsa Iran yang religius.

Sebagaimana diserukan Barzegar, di masa mendatang, para pengamat Barat mesti mempelajari lebih dalam lagi masyarakat Iran, sehingga diperoleh gambaran lebih dalam mengenai struktur negara ini yang sangat religius organik.

Sejatinya, aspek-aspek religius unik Persialah yang mengantarkan seorang alim ulama dan sufi besar berusia 80 tahun mendirikan Republik Islam Iran, Ayatullah Ruhallah Khomeini dan kini dipegang oleh ulama alim, Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khoemenei. Faktor ini pula yang mengantarkan seorang putra pandai besi yang jujur, Ahmadinejad menjadi presiden Iran. (http://indonesian.irib.ir)

Yang ingin download gratis amalan praktis dan doa2 pilihan, klik di sini:
http://www.tokoku99.com
Di halaman Produk Islami/eBook Islami

Wassalam
Syamsuri Rifai
http://shalatdoa.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: