Al-Kisah: Isteri dan Harta pindah pada Orang lain

Dalam kitab Laâlil Akhbar disebutkan suatu kisah yang bersumber dari Ibnu Khalkan:

Pada suatu hari seorang kaya sedang makan ayam bakar. Kemudian datanglah seorang pengemis meminta-minta, tapi ia mengusirnya. Orang kaya itu lalu bercerai dengan isterinya dan kehilangan harta kekayaannya.
 
Kemudian isterinya menikah dengan orang lain. Ketika suami keduanya sedang makan ayam bakar datanglah seorang pengemis. Lalu ia menyuruh isterinya memberikan ayam bakar itu kepada pengemis itu. Ketika isterinya melihat pengemis itu ternyata ia mantan suaminya. Lalu ia menceritakan kepada suaminya yang kedua.

Suaminya berkata: Demi Allah, aku adalah pengemis yang dahulu meminta-minta darinya. Sekarang Allah memberikan harta dan isterinya kepadaku karena ia tidak mensyukuri nikmat Allah.

Rasulullah saw bersabda:
“Jagalah kesucian dan kehormatan isteri orang lain, agar kesucian isterimu juga terjaga. Berbaktilah kepada orang tuamu agar anak-anakmu berbakti kepadamu.” (Al-Wasail, hadis ke 2582)

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
“Berbuat baiklah kepada keturunan orang lain, niscaya keturunanmu akan diperlakukan dengan baik.” (Biharul Anwâr 75: 12)

Rasulullah saw bersabda:
“Orang yang kamu bantu akan membantumu. Orang yang tak bersabar dalam musibah, ia akan menjadi lemah. Orang yang memberi hutang kepada orang, ia akan diberi hutang oleh mereka, dan orang yang meninggalkan mereka, tak akan ditinggalkan oleh mereka.”

Sahabat bertanya: Lalu apa yang harus kulakukan, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Pinjamkan sebagian hartamu kepada mereka untuk saat kamu membutuhkan mereka.” (Tuhaful ‘Uqûl: 37).

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
“Barangsiapa yang menginfakkan hartanya karena Allah, maka Dia akan mensegerakan gantinya.” (Ghurarul Hikam).

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
“Barangsiapa yang menebarkan hikmah, maka orang-orang akan mengingatnya dengan hikmah itu.” (Ghurarul Hikam).

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa):
“Jika seorang hamba bersedekah dengan baik di dunia, Allah akan memberikan ganti yang baik kepada keturunannya.” (Biharul Anwâr 96: 135).

Wassalam
Syamsuri Rifai

Pesantren Alam Maya
Macam2 shalat sunnah, doa-doa pilihan, dan artikel2 Islami:
https://syamsuri149.wordpress.com
http://shalatdoa.blogspot.com
Amalan praktis, Doa2 harian dan bulanan:
http://islampraktis.wordpress.com
Tafsir tematik, Asbabun Nuzul, hadis2 pilihan, keutamaan surat2 Al-Qur’an:
http://tafsirtematis.wordpress.com
Amalan Praktis, Adab2 dan doa2 haji dan umroh, serta artikel2 tentangnya:
http://almushthafa.blogspot.com

Milis:
http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia
http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa
http://groups.google.co.id/group/feng-shui-islami

Jaringan Pendukung:
http://syamsuri149.multiply.com
http://profiles.friendster.com/syamrifai
Mari kita perluas jaringan dan persahabatan:
http://id-id.facebook.com/people/Syamsuri_Rifai/1071108775

Mari bergabung di Group Pecinta Keluarga Bahagia:
http://www.facebook.com/group.php?gid=37020211895

3 Responses

  1. assalamu’alaikum

    terimakasih pak ilmunya….

    apakah saya boleh nge-link blog nya

    syukron Pak

    wassalamu’alaikum

  2. Assalamu’alaikum Ustadz,

    Saya punya rekan kerja -sebut saja fulan-, tapi setelah keluar dari pekerjaan dia tidak ada kabarnya sama sekali.

    Dia pernah meminjam uang pada Saya beberapa kali. Yang awal-awal sih nggak seberapa besar, Saya ikhlas merelakannya. Tapi yg terakhir dia meminjam uang sebesar 1jt rupiah, dengan alasan untuk biaya rumah sakit Ibunya. Tak lama berselang, Saya mendengar kabar dari teman yg lain, kalau dia mau berhenti kerja & teman Saya itu mengingatkan Saya jika fulan punya hutang, segera ditagih. Karena si fulan pun punya banyak hutang pada teman2 yg lain dan bermasalah pelunasan hutangnya.

    Sebelum keluar, fulan sempat meminjam uang lagi, Tapi kali ini tidak saya beri. Selain karena yg sebelumnya aja belum dikembalikan, Saya juga ada keperluan lain yg menurut Saya lebih patut Saya dahulukan daripada menghutangi fulan.

    Pada hari terakhir bekerja, fulan berjanji untuk menghubungi Saya dan akan membayar hutangnya. Tapi sampai sekarang, dia tidak pernah menghubungi Saya dan semua no telp fulan yg Saya punya tidak aktif.

    Sampai sekarang pun, Saya tetap berprasangka waktu fulan meminjam uang itu adalah benar untuk keperluan berobat Ibunya. Entah jika dia menipu Saya, tapi tetap seperti itu sangkaan Saya.

    Bukan nominal uang yg Saya permasalahkan, Saya bisa saja menganggapnya hangus terbakar api atau Saya juga bisa merelakannya jika memang dia sekarang benar2 terbukti miskin.

    Ustadz, tolong beri Saya nasihat, apa yg sebaiknya Saya lakukan.

    Terima kasih.

    Salam,

  3. Terima kasih pak ustad,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: